Wednesday, September 25, 2019

Seniman Ini Hiasi Dinding dengan 440 Pasang Sepatu, Alasan di Baliknya Bikin Terenyuh

Jakarta Masalah kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) bukanlah hal baru lagi, hampir setiap negara memiliki kasus KDRT. Banyak sekali kekerasan dalam rumah tangga yang meninggalkan trauma tersendiri bagi korbannya. Kekerasan dalam rumah tangga pun banyak macamnya, mulai dari kekerasan verbal hingga fisik. Walaupun bisa juga menimpa lelaki namun sebagian besar, wanita yang menjadi korban.


Namun masalah kekerasan dalam rumah tangga ini tidak mudah untuk ditangani, karena tidak semua orang akan mudah untuk mengungkapkan apa yang dialaminya. Biasanya korban akan bungkam karena takut dan malu atas apa yang telah ia alami. Kejadian KDRT ini pun juga banyak terjadi di negara Turki.

apa??? barang kamu bisa di promosikan oleh artis dan influencer terkenal??? coba disini gan influencer marketing indonesia

Sampai-sampai ada seorang seniman bernama Vahit Tuna, yang membuat sebuah karya seni untuk memperingati korban KDRT yang pada umumnya adalah wanita di sebuah bangunan yang ada di pusat kota Turki. Melansir dari boredpanda, Selasa (24/9/2019) 40% dari perempuan di Turki telah mengalami kekerasan dalam rumah tangga. Dalam beberapa kasusnya ada pula yang berakhir tragis hingga berakibat kematian.

Berawal dari sinilah Vahit Tuna seorang seniman Turki pun membuat karya seni untuk memperingatinya. Berikut ulasan mengenai seniman hiasi dinding dengan 440 pasang sepatu yang Liputan6.com lansir dari boredpanda, Selasa (24/9/2019).

taruhan bola terpercaya nih gan! langsung cek aja linknya

Peringati korban kekerasan dalam rumah tangga

Melansir dari boredpanda, Selasa (24/9/2019) kekerasan dalam rumah tangga adalah kasus yang cukup banyak teradi di seluruh penjuru dunia. Dalams setiap kasusnya, wanitalah yang biasanya menjadi korban kekerasan.

Mengenai masalah di Turki sendiri, terdapat kurang lebih 40% dari perempuan yang ada telah mengalami kekerasan dalam rumah tangga. Selain itu beberapa kasus malah berakhir tragis hingga kematian. Berawal dari sinilah, Vahit Tuna sang seniman membuat sebuah karya seni untuk meningkatkan sebuah kesadaran dan memperingati korban yang meninggal akibat kekerasan dalam rumah tangga.

pengen punya mobil klasik atau mobil keluaran baru dengan harga yang terjanngkau??? langsung mampir ke lelang mobil jakarta utara aja gan, dijamin recommended!

Alasan pemilihan sepatu hak tinggi

Pemilihan 440 pasang sepatu yang ditata dalam sebuah dinding di pusat kota turki adalah untuk gambarkan, 440 korban wanita meninggal akibat dibunuh oleh suaminya. Data ini diambil pada jumlah korban kekerasan dalam rumah tangga di Turki pada tahun 2018.

Memilih sepatu yang memiliki hak tinggi adalah sebuah simbol kekuatan wanita yang ia harapkan dimiliki oleh setiap wanita di dunia. Sepatu yang dipajang pun bukanlah milik para korban. Selain itu kenapa semuanya memiliki hak dan bukan sepatu flat atau yang lain karena sebuah alasan estetika. Selain itu, simbol sepatu yang ada di Turki adalah dapat menggambarkan seseorang yang sudah meninggal apabila sepatu orang yang meninggal tersebut diletakan di luar, atau sebuah simbol berkabung.

Sunday, September 8, 2019

10 Karya Old Master Indonesia Termahal 2017

Lee Man Fong,
Lee Man Fong, "Balinese Procession". (Dok. Artprice)
Balinese Procession (Prosesi Warga Bali) karya maestro Lee Man Fong menjadi lukisan old master Indonesia termahal tahun 2017. Lukisan yang dirampungkan pada 1941 itu mencapai angka HK$15,7 juta atau setara dengan Rp27,28 miliar, di balai lelang Sotheby’s Hong Kong, April 2017.
Lee Man Fong (1913 – 1988) adalah pelukis istana pada masa Presiden Sukarno. Kekhasan karyanya adalah menggabungkan gaya melukis Barat dengan gaya tradisional Tiongkok.
Sudjojono dan Le Mayeur juga menempatkan karya mereka di 10 Karya Old Master Indonesia Termahal 2017. Siapa lagi seniman dengan karya termahal? Ikuti ulasan lengkapnya berikut:

  1. Andong/Horse Cart (1969) – HK$2,5 juta (US$320.150)
Affandi Affandi “Andong (Horse Cart)”,1969. (Dok. Artprice)
Lukisan karya Affandi (1907-1990) ini terjual seharga HK$ 2,5 juta (Rp 4,34 miliar) di balai lelang Christie’s Hong Kong pada November 2017. Seperti sebagian besar karya Affandi, Andong menunjukkan rasa kemanusiaannya yang mendalam  sekaligus penghargaan yang besar bagi mereka yang bekerja mengandalkan fisik.
  1. Colosseum, Roma (1972) – HK$3,22 juta (US$414.382)
Affandi, Affandi, “Colosseum-Roma”, 1972. (Dok. Artprice)
Lukisan ini menandai bagian penting dalam karier Affandi. Dibuat saat Affandi mengunjungi amphitheater Colosseum di Roma, Italia pada musim dingin. Dia berdiri di samping kedai pizza, mengoleskan cat langsung dengan jari-jarinya di tengah perjuangan melawan hawa dingin.
Colosseum, Roma terjual seharga HK$3,22 juta (Rp5,59 miliar) di balai lelang Sotheby’s Hong Kong pada April 2017.
  1. Abstract Composition (1968) –HK$3,22 juta (US$414)
Ahmad Sadali, Ahmad Sadali, “Abstract Composition”,1968. (Dok. Artprice)
Ahmad Sadali (1924 – 1987), salah satu seniman Mazhab Bandung, berkarya dengan menggabungkan seni dan unsur kereligiusan. Lulusan Fakultas Guru Gambar pada Fakultas Teknik Universitas Indonesia (sekarang Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB) ini digelari Bapak Seni Lukis Abstrak Indonesia.
Abstract Composition sebelumnya koleksi pribadi seorang diplomat Denmark, hingga pada April 2017 terjual melalui lelang di Sotheby’s Hong Kong seharga HK$3,22 juta (Rp5,59 miliar).
  1. Never Lose Your Fighting Spirit –HK$3,66 juta (US$469.578)
Hendra Gunawan, Hendra Gunawan, “Never Lose Your Fighting Spirit”, 1972. (Dok. Artprice)
Hendra Gunawan (1918 – 1983) mendapat banyak inspirasi saat ikut berjuang dalam masa Revolusi, yang menghasilkan karya-karya dengan nuansa kerakyatan. Namun keberpihakannya pada rakyat, dengan bergabung dalam Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra), membuat Hendra Gunawan dipenjara selama 13 tahun, pada 1965 – 1978.
Never Lose Your Fighting Spirit terjual melalui lelang di Christie’s Hong Kong pada November 2017 sebesar HK$3,66 juta (Rp6,36 miliar).
  1. The Lotus Pond – HK$3,94 juta (US$507.039 )
Adrien Jean Le Mayeur de MerpreÌ€s, Adrien Jean Le Mayeur de Merprès, “The Lotus Pond”. (Artprice)
Adrien-Jean Le Mayeur de Meprès (1880–1958) berasal dari keluarga aristokratik di Brussel, Belgia. Dia tiba di Bali pada 1932 dalam usia 52 tahun yang menjadi titik penting dalam hidupnya.
Di Bali, Le Mayeur mengenal penari legong bernama Ni Pollok yang bersedia menjadi model tunggal bagi lukisan-lukisannya dan kemudian menjadi istrinya. Perempuan-perempuan yang ada di lukisan The Lotus Pond ini, misalnya, diperagakan oleh Ni Pollok seorang.
The Lotus Pond terjual seharga HK$3,94 juta (Rp6,85 miliar) di balai lelang Sotheby’s Hong Kong pada April 2017.
  1. The Eagle (1948) – €450 ribu (US$506.295)
Lee Man Fong, Lee Man Fong, “The Eagle”, 1948. (Dok. Artprice)
Lee Man Fong gemar memelihara binatang, seperti ayam, merpati, beo, dan anjing. Halaman rumahnya juga berhias kolam tempat hidup ikan mas koki. Tak heran jika dia kerap melukis piaraaannya tersebut.
Dalam metafora masyarakat Tionghoa, elang di atas karang menyimbolkan seorang pahlawan yang berjuang sendirian. Garuda, yang dalam ajaran Hindu adalah kendaraan Dewa Wisnu, dijadikan Lambang Negara Indonesia. Man Fong menggabungkan dua simbolisme kuno itu dalam satu karya, The Eagle.
The Eagle terjual seharga €450 ribu (Rp7,23 miliar) di balai lelang Zeeuws Veilinghuis di Middelburg, Belanda pada Juni 2017.
  1. Penjual Ikan/The Fish Seller (1981) – HK$5,38 juta (US$688.747)
Hendra Gunawan, Hendra Gunawan, “Penjual Ikan (The Fish Seller)”, 1981. (Dok. Artprice)
Penjual Ikan, yang dibuat pada masa akhir Hendra Gunawan berkarya, menonjolkan gaya figuratif yang unik serta pemilihan warna-warna cerah. Karya ini adalah bentuk kekaguman Hendra Gunawan kepada sosok-sosok yang dia temui setiap hari, yang hidup sederhana namun penuh martabat.
Penjual Ikan terjual seharga HK$5,38 juta (Rp9,35 miliar) di balai lelang  Sotheby’s Hong Kong pada September 2017.
  1. La Pergola (The Arbour) –HK$7,3 juta (US$934.546)
Adrien Jean Le Mayeur de MerpreÌ€s, Adrien Jean Le Mayeur de Merprès, “La Pergola (The Arbour)”. (Artprice)
La Pergola mewakili pencapaian visual Le Mayeur, memuat motif-motif favoritnya, yakni perempuan, sinar matahari, dan bunga. Jelas sekali dia menghias halaman rumahnya di pantai Sanur dengan bunga-bunga indah, kolam kecil, dan pura kecil.
La Pergola terjual seharga HK$7,3 juta (Rp12,68 miliar) di balai lelang Sotheby’s Hong Kong pada September 2017.
  1. The Ruins and The Piano (1956) – HK$9,06 juta (US$ 1.162.398) 
S. Sudjojono, S. Sudjojono, “The Ruins and The Piano”, 1956. (Dok. Artprice)
S. Sudjojono (1914-1986) menggunakan lukisan untuk mengekspresikan pandangan politik dan sosialnya. Dia banyak menggambarkan pedesaan dan masyarakat Indonesia dalam kerangka realis.
The Ruins and The Piano dapat dibilang keluar dari pakemnya  selama ini. Di sana ada piano teronggok merana di tengah reruntuhan usai bencana, seperti sesuatu yang dicabut dari lingkungan aslinya untuk ditempatkan di suasana asing. Lewat lukisan ini S. Sudjojono mendemonstrasikan eksperimennya atas prinsip-prinsip dan estetika.
The Ruins and The Piano terjual seharga HK$9,06 juta (Rp15,74 miliar) di balai lelang Christie’s Hong Kong pada Mei 2017.
  1. Balinese Procession (Prosesi Warga Bali) – HK$15,7 juta (US$ 2.019.018)
Lee Man Fong, Lee Man Fong, “Balinese Procession”. (Dok. Artprice)
Lee Man Fong yang lahir di Guangzhou, Tiongkok, pindah ke Singapura saat usia belia. Setelah sempat tinggal di Batavia, dia bermukim di Bali dalam waktu cukup lama.
Balinese Procession menggambarkan kehidupan sehari-hari di Bali, bukan hanya upacara. Lukisan ini menyuguhkan kesan hangat, lembut, dan tenang. agen judi